Kelas Matematika

BAB I

PENDAHULUAN

PENGGUNAAN TEKNOLOGI DI KELAS MATEMATIKA

 

A.    Latar belakang

Matematika seringkali dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan oleh sebagian besar siswa. Selama ini Matematika cenderung dianggap sebagai pelajaran yang sulit. Prestasi belajar Matematika sebagian besar siswa pun tidak menunjukkan hasil yang cukup memuaskan, bahkan boleh dibilang terpuruk. Hampir setiap tahun selalu saja kita dengar banyak siswa yang tidak lulus ujian gara-gara Matematika. Padahal sudah tidak disanksikan lagi, bahwa Matematika memegang peranan yang cukup penting dalam kehidupan manusia. Banyak yang telah disumbangkan Matematika bagi perkembangan peradaban manusia. Kemajuan sains dan teknologi yang begitu pesat dewasa ini tidak lepas dari peranan Matematika. Boleh dikatakan landasan utama sains dan teknologi adalah Matematika. Tapi sungguhkah Matematika itu sulit ? seperti bidang ilmu yang lainnya, Matematika itu bersifat netral. Sulit atau tidak bergantung cara pandang dan penilaian kita. Matematika terlanjur dicap sebagai mata pelajaran yang sulit, karena pengalaman tidak menyenangkan ketika belajar Matematika. Pengalaman ini ditularkan pada orang lain sehingga orang yang akan belajat Matematika turut mempersepsi Matematika sebagai bidang studi yang sulit. Hal ini secara tidak langsung akan mempengaruhi minat orang terhadap Matematika. Study the Third International Mathematic And Sains Study Repeat ( TIMMSS – R ) pada tahun 1999 menyebutkan bahwa diantara 38 negara, prestasi siswa SMP Indonesia berada pada urutan 34 untuk Matematika. Sementara peraihan nilai Matematika pada ujian negara, pada semua tingkat dan jenjang pendidikan selalu terpaku pada angka yang rendah pula. Sementara menurut data yang dirilis Depdiknas pada tahun 2006 sekitar 9 % siswa SMA gagal dalam ujian nasional (UN). Ironisnya beberapa siswa yang gagal itu adalah siswa yang berprestasi, termasuk diantaranya juara olimpiade dan mereka sudah diterima di berbagai perguruan tinggi melalui jalur khusus untuk siwsa yang berprestasi. Fakta diatas memang cukup memprihatikan  dan yang lebih memprihatikan lagi sebagian besar siswa yang tidak lulus itu jatuh pada pelajaran Matematika. Keadaan ini sangat ironis dengan kedudukan dan peran Matematika untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, mengingat Matematika merupakan induk pengetahuan. Tugas pendidik Matematika menjadi ganda. Pertama,  bagaimana materi ajar sampai kepada peserta didik sesuai dengan standar kurikulum. Kedua, bagaimana proses pembelajaran berlansung dengan pelibatan peserta didik secara penuh, dalam artian proses pembelajaran yang berlangsung dapat berjalan dengan menyenangkan. Sebuah tantangan bagi pendidik Matematika untuk berpikir dan bertindak kreatif ditengah kegetiran nasib guru. Namun masih banyak pendidik yang menanggapi kegetiran hidup dengan sikap optimistik dan penuh tanggung jawab terhadap tugas dan kewajiban sebagai pendidik. Dalam paper ini penulis ingin membahas perlunya teknologi (media pendidikan) digunakan dalam kelas Matematika dalam rangka menyampaikan materi ajar kepada siswa dan dikuasai oleh siswa dalam rangka untuk menganggulangi keterpurukan hasil belajar siswa sehingga dapat ditingkatkan.

 

B.     Masalah

Masalah pada tahap pertama, yakni pada penyampaian materi sesuai tuntutan standar kurikulum. Pembelajaran ilmu Matematika menggariskan bahwa  peserta didik harus mempelajari Matematika melalui pemahaman dan aktif membangun pengetahuan baru dari pengalaman  dan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Masalah tahap kedua, menetapkan model pembelajaran yang efektif pada dasarnya atmosfer pembelajaran merupakan hasil sinergi dari tiga komponen pembelajaran utama, yakni siswa, kompetensi guru dan fasilitas pembelajran. Ketiga prasyarat tersebut pada akhirnya bermuara pada area proses dan model pembelajaran. Model pembelajaran yang baik dan efektif dalam pembelajaran Matematika memiliki nilai relevansi dengan pencapaian gaya Matematika dan memberi peluang untuk bangkitnya kreatifitas guru kemudian berptensi mengembangkan suasana belajar mandiri  selain dapat menarik perhatian siswa dan sejauh mungkin memanfaatkan momentum kemajuan teknologi khususnya dengan mengoptimalkan fungsi teknologi informasi. Dari kedua masalah diatas kiranya dapat lebih dispesifikasikan yaitu perlunya teknologi (media pendidikan) dalam pembelajaran Matematika untuk membantu memahami konsep pembelajaran Matematika sehingga belajar Matematika lebih bervariasi dan diusahakan dapat menyenangkan siswa dalam belajar Matematika.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

Penguasaan terhadap bidang studi Matematika merupakan suatu keharusan apalagi  di era persaingan global seperti saat sekarang ini. Sebab selain Matematika sebagai pintu masuk menguasai sains dan teknologi yang berkembang begitu pesat dewasa ini, dengan belajar Matematika orang dapat mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, kritis dan kreatif yang sungguh dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mewujudkan hal itu dirumuskan lima tujuan umum pembelajaran Matematika yakni :

1.      belajar berkomunikasi

2.      belajar untuk bernalar

3.      belajar untuk memecahkan masalah

4.      belajar untuk mengaitkan idea

5.      pembentukan sikap positif terhadap Matematika.

Semua ini lazim disebut daya Matematika (Mathematical Power) Building Principle Mathematic Curriculum Fram Work Archieving Marthematical Power ( Departement Of Education 1996) mengungkapkan bahwa proses pengembangan Mathematical Power merupakan sebuah proses yang complex dalam arti peserta didik belajat Matematika tidak hanya bergantung pada apa yang diajarkan tetapi bergantung pada bagaimana Matematika itu diajarkan atau bagaimana peserta didik itu belajar. E-Learning merupakan sebuah alternatif Thomson dan kawan-kawan (2000) menyatakan E-Learning  is Instructional Contants Or Learning Experiences Delivered Or Enable by Elektronic Tecnologi. Pemanfaatan teknologi elektronik dalam pembelajaran memberi penguatan terhadap pola perubahan paradigma pembelajaran. Sistem E – Learning merupakan bentuk implementasi pembelajaran yang memanfaatkan teknologi dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Dengan arti pembelajaran ini dapat dilakukan dengan sinkronous maupun asinkronous. Sinkronous adalah pembelajaran yang dilakukan dalam waktu yang sama. Sedangkan asinkronous adalah pembelajaran yang dilakukan dalam waktu yang berbeda. Beberapa negara menyelenggaran kegiatan  E – Learning sebagai suplemen terhadap meteri pelajaran  yang disajikan secara regular di kelas (Wildvascy) 2001, Lewis 2002). E-Learning dapat juga dilaksanakan sebagai alternatif belajar, karena satu dan lain hal peserta didik berhalangan mengikuti pelejatan tatap muka. Teknologi atau media pendidikan dalam proses belajar mengajar mempunyai kegunaan sebagai berikut :

1.      Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalitas.

2.      Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera seperti :

a.       Objek yang terlalu besar digantikan dengan realita, gambar, film atau model

b.      Objek yang kecil dibantu dengan proyektor mikro.

c.       Gerak yang terlalu cepat atau lambat dapat dibantu dengan time lapse atau high speed fotography

d.      Dan lain-lain.

3.      Penggunaan teknologi atau media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik.

4.      Dengan sikap yang unik pada siswa ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi yang sama untuk setiap siswa maka guru banyak mengalami kesulitan bilaana hal itu harus diatasi sendiri. Hal ini akan lebih sulit bila latar belakang guru dan siswa juga berbeda masalah ini dapat diatasi dengan teknologi atau media pendidikan yaitu dalam kemampuannya :

a.       Memberikan perangsang yang sama

b.      Mempersamakan pengalaman

c.       Menimbulkan persepsi yang sama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

1.      Kesimpulan

1.      Siswa mempelajari Matematika melalui pengalaman pengajaran yang disediakan oleh gurunya, sehingga guru harus tahu dan benar-benar memahami matematika yang mereka ajarkan

2.      Tidak ada model standar dalam mengajarkan matematika tetapi dengan teknologi dan media pendidikan belajar matematika dapat lebih menyenangkan.

3.      Dengan teknologi dan media pendidikan prestasi belajar siswa dapat ditingkatkan.

2.      Saran

  1. Guru harus memahami bagaiama cara siswa mempelajari para siswa sehingga memotivasi mereka dalam membentuk kebiasaan belajar yang efektif dan efisien
  2. Dalam mengajarkan materi pelajaran seorang guru harus memotivasi cara mengajar, bereksperimen dengan alat bantu pengajaran yang baru atau dalam memperluas kurikulum

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Departement of Mathematics And Computer Science Saint Lowis University, 1993 Succes In Mathematics

Susilo, F, dkk, (ed) 1998, Pendidikan Matematika dan sains, Tantangan Dan Harapan Yogyakarta, Penerbit. Universitas Sanata Dharma

Hj. Sriyanto, (2007) “Strategis Sukses Menguasai Matematika” Penerbit Indonesia Cerdas

Arief S. Sadiman, 2007 “Media Pendidikan” Penebrit Puste