Musik Pop Indonesia


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Tahoma; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:1627421319 -2147483648 8 0 66047 0;} @font-face {font-family:Verdana; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} h2 {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; mso-outline-level:2; font-size:15.5pt; font-family:”Times New Roman”; font-weight:bold;} a:link, span.MsoHyperlink {color:#669922; mso-text-animation:none; font-weight:bold; text-decoration:none; text-underline:none; text-decoration:none; text-line-through:none;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {color:purple; text-decoration:underline; text-underline:single;} p {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.western, li.western, div.western {mso-style-name:western; mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:35.4pt; mso-footer-margin:35.4pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Musik Pop Indonesia

“ Musik, gaya hidup, fashion dan identitasnya“

“ Living in the limelight
The universal dream
For those who wish to seem. “

– Rush, Limelight

Setiap kali kita berbicara tentang musik pop (di) Indonesia, kita tak bisa memisahkannya dengan gaya hidup. Bukan saja musik pop, seperti yang diduga oleh banyak orang – menjadi bagian dari gaya hidup kaum muda di perkotaan, namun lebih jauh lagi musik pop sudah dianggap sebagai gaya hidup itu sendiri. Artinya, untuk menikmati gaya hidup heavy metal , anak muda di berbagai kota kecil di Jawa Tengah (misalnya Kendal, Kaliwungu, Batang dan sebagainya ) cukup mengadopsinya dengan memanjangkan rambut, mengenakan kaos hitam berhias sablon bintang metal seperti metallica dan sebagainya, sambil tentu saja mendengarkan musik gfaduh riuh itu sesering mungkin.

Untuk mencebur dalam budaya J-Pop, tak harus mejeng di kawasan Harayuku Street di Jepang sana, namun cukup dengan segenap mengenakan fashion gaya ‘tabrak lari’ yang memadu semua unsur fashion secara kontras dan naïf. Seperti apa yang dikenakan sebagai kostum panggung duo cantik Ratu. Gaya hidup hip-hop girl yang serba seksi lengkap dengan irama -dansa ala Britney Spears berikut gaya fashion mereka yang serba terbuka dan seksi, juga bukan hal yang baru bagi para gadis muda kita, dengan idola mereka; Agnes Monica,- yang akhir-akhir ini dilanda hasrat untuk bisa go international. Di samping itu, kita tahu gaya yang cenderung ‘bohemian’, suka-suka gua dengan wacana pemikiran yang kritis pada beberapa masalah sosial, juga menjadi ‘prinsip’ para pecinta berat Iwan Fals.

Semua ini menunjukkan bahwa musik pop (di) Indonesia kini bukan lagi tampil sebagai sekedar produk budaya pop, yang bermula dari faktor kebutuhan dan pemenuhan ( Di AS bermula dari adanya radio yang butuh materi musik untuk disiarkan, lalu ada perusahaan rekaman yang merekam penyanyi baru, setelah disiarkan jadi beken, diminta manggung di mana-mana, dan menciptakan peluang bagi industri musik untuk memenuhi kebutuhan itu ), namun sudah terkomodifisakisan sedemikian rupa, dari luar-dalam, hingga menjadi seuatu keniscayaan yang tak bisa dilewatkan dalam kehidupan kaum muda kita.

Realitas pop yang artifisial

Hugh Mackay, pada bab Introduction, dalam bukunya tentang kajian gaya hidup dan budaya pop yang cukup berpengaruh ( berjudul Consumption and Everyday Life), menjelaskan setidaknya ada tiga hal yang bisa kita jadikan sebagai cirri atau penanda bagi redefinisi budaya pop dan maknanya dalam kehidupan sehari-hari, yakni : waste/use up ( apa yang masih ngetren atau apa yang sudah ‘nggak’ musim ), pleasure ( sejauh mana lagu pop cukup asyik dinikmati ) , everyday practice ( kaitan dengan pengalaman hidup sehari-hari. Misalnya lirik lagu SMS-nya Trio Macan yang akrab dengan gejala SMS-mania di kalangan anak muda ) dan faktor lain yang cukup terkait, yakni related to our identity ( warna musik atau makna lirik yang dianggap mewakili citra dan hasrat seseorang secara personal ).

Karena itu eksistensi musik pop tak bisa dipisahkan dari gaya hidup dan fashion, sebagai ‘habitat alami’nya. Bahkan keberadaan dua unsur lain itu, gaya hidup dan fashion, akhirnya menjadi satu bagian tak terpisahkan ( istilah ngepopnya satu paket ) sebagai sebuah produk kultur modernisme, dengan segenap bentuk komodifikasinya, yang di era cybernetik ini justru semakin menjadi-jadi.

Konsep pasar musik misalnya, ikut berubah. Bila sebelumnya jaringan pasar musik adalah gerai toko kaset dan berbagai outlet lainnya, dengan produk jadi berupa album kaset atau cakram CD, kini bisnis cyber seperti download lagu dan ring tone menjadi kenyataan pasar yang sebelumnya tak terbayangkan. Artinya citra selebritis yang sebelumnya sudah melebar ke layar kaca ( sesuatu yang bisa dinikmati secara un-real) malah semakin berpotensi untuk menjadi hyper-real. Para Slanker semakin merasa akrab sebagai bagian dari komunitas musik grup Slank secara ‘personal’, karena setiap saat mereka bisa ‘terkoneksi’ dengan Slank atau para personilnya dengan mengakses lewat cara tertentu pada perangkat ponsel. Para pecinta musik pop (di) Indonesia bisa setiap saat menimati lagu, video klip, wall paper, foto-foto, bahkan ‘ngobrol’ dengan bintang idolanya. Bukankah ini merupakan suatu kelebihan yang tak ada sebelumnya. Begitu nyata, sekaligus begitu artifisial.

Jadi, bila bicara soal gaya hidup atau sisi fashioning budaya pop, saya setuju dengan pandangan John Fiske tentang Madonna. Dalam bukunya; Understanding Popular Culture. (New York: Routledge, 1989.),- Fiske menyebutkan bila sukses Madonna menjadi diva musik pop dunia berkaitan erat dengan pendekatan para kapitalis lelaki untuk mengolah semua peluang bisnis yang bisa ditangguk dari sisi seksual dan keperempuanan Madonna. (Madonna as the product of patriarchal capitalism… shows the typically exploitative approach of the capitalist pop music industry, exploitative of both her and her teenage girl fans ). Dengan demikian, secara tidak langsung, para fans Madonna, bagi Fiske merupakan semacam ‘cultural dopes’ . Mereka (harus) ada, dan bila perlu diciptakan sebagai pendorong si artis untuk mencapai puncak perhatian. Untuk itu sang artis berusaha untuk memenuhi apa yang diinginkan para pemujanya.

Bila secara fisik mereka tak bisa hadir setiap saat di antara pemujanya, kini mereka melakukannya secara virtual. Ruang cyber telah menginvasi ruang yang nyata ( perceptual space), di sisi lain tubuh sang artis berkembang menjadi ‘tubuh-media’, mungkin sekali di-klon setiap saat, dengan berbagai cara. Maka jelaslah kutipan sebait lirik lagu dari Rush yang saya tampilkan di atas tadi. Kenikmatan mendapat sorotan lampu popularita tak saja dirasakan oleh si artis, namun juga para penggemarnya yang secara komunal menikmati impian yang didambakan. Bagi si artis, jadi ternama karena banyak pemuja. Bagi si pemuja, merasakan keasyikan (pleasure) karena menjadi bagian dari kemashuran pujaannya. .

Maka budaya musik pop (di) Indonesia sama pekatnya dengan lumpur budaya komersial di kancah global. Soal gaya hidup, fashion, bahkan identitas kluturalnya pun tak bisa dipilah-pilah secara sepihak. Misalnya, jawablah pertanyaan ini : Adakah musik pop yang sepenuhnya berwajah Indonesia ? Ubiet pernah berupaya ketika merekam albumnya yang berjudul Archipelagongs. Niat bagus yang sayangnya tak pernah menjadi bagian dari mainstream musik pop (di Indonesia. Agnes Monica dengan album terakhirnya Waddup A ? lebih bicara dalam idiom musik pop kita. Inilah lingkungan lumpur budaya yang membuat kita setengah mati berenang mencapai air jernih. Dalam budaya hype ini, selebriti memang menjadi penguasa. Taak heran bila kadang ada yang merasa tolol sendiri, seperti Nirvana dalam lagu ini : “ I feel stupid and contagious
Here we are now, entertain us.” ( Smells Like Teen Spirit )